1. Overview
António Agostinho Neto (17 September 1922 - 10 September 1979) adalah seorang politikus komunis dan penyair dari Angola. Ia menjabat sebagai presiden pertama Angola dari tahun 1975 hingga 1979, memimpin Gerakan Populer untuk Pembebasan Angola (MPLA) dalam Perang Kemerdekaan Angola (1961-1974). Hingga kematiannya, ia juga memimpin MPLA dalam Perang Saudara Angola (1975-2002). Dikenal pula karena aktivitas sastranya, ia dianggap sebagai penyair terkemuka Angola. Hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional, sebuah hari libur umum di Angola. Neto dikenang sebagai seorang revolusioner, nasionalis, politikus, sosialis, penyair, dan prajurit yang memainkan peran sentral dalam pembebasan dan pembentukan Angola.
2. Kehidupan Awal dan Latar Belakang
Agostinho Neto lahir dari keluarga guru sekolah dan pemeluk Metodis, dengan ayahnya juga seorang pastor Metodis. Lingkungan ini membentuk fondasi awal kehidupannya sebelum ia terlibat dalam perjuangan politik dan sastra.
2.1. Masa Kanak-kanak dan Pendidikan
António Agostinho Neto lahir pada 17 September 1922 di Ícolo e Bengo, di Provinsi Bengo, Angola Portugis. Ayahnya, yang juga bernama Agostinho Neto, adalah seorang pastor Metodis, dan kedua orang tuanya adalah guru sekolah. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya di ibu kota, Luanda, Neto bekerja di layanan kesehatan kolonial sebelum melanjutkan studinya di universitas.
2.2. Studi di Portugal dan Aktivitas Politik Awal
Neto kemudian meninggalkan Angola untuk melanjutkan studi kedokteran di Portugal, belajar di universitas-universitas di Coimbra dan Lisboa. Selama masa studinya, ia aktif dalam kegiatan politik rahasia yang bersifat revolusioner. Akibat aktivitas separatisnya, ia ditangkap oleh PIDE, polisi keamanan rezim Estado Novo yang dipimpin oleh Perdana Menteri Portugis António de Oliveira Salazar, pada tahun 1951 selama tiga bulan. Ia ditangkap lagi pada tahun 1952 karena bergabung dengan Gerakan Pemuda Demokratik Portugal, dan kemudian ditangkap kembali pada tahun 1955, ditahan hingga tahun 1957. Pada hari ia lulus, ia menikahi seorang wanita Portugis berusia 23 tahun bernama Maria Eugénia da Silva, yang lahir di Trás-os-Montes. Ia menyelesaikan studinya pada tahun 1958 dan kembali ke Angola pada tahun 1959.
2.3. Bergabung dengan Gerakan Kemerdekaan dan Pemimpin MPLA
Setelah kembali ke Angola, Neto kembali ditangkap pada 8 Juni 1960. Penangkapan ini memicu protes besar dari pasien dan pendukungnya. Mereka berbaris dari Bengo ke Catete menuntut pembebasannya, namun dihentikan oleh tentara Portugis yang melepaskan tembakan, menewaskan 30 orang dan melukai 200 lainnya dalam insiden yang dikenal sebagai Pembantaian Ícolo e Bengo. Awalnya, pemerintah Portugal mengasingkan Neto ke Tanjung Verde, lalu kembali menjebloskannya ke penjara di Lisbon. Setelah protes internasional menuntut pembebasan Neto kepada pemerintahan Salazar, ia dibebaskan dari penjara namun ditempatkan di bawah tahanan rumah. Dari tahanan rumah ini, ia berhasil melarikan diri, pertama ke Maroko dan kemudian ke Kongo-Léopoldville (sekarang Republik Demokratik Kongo).
Pada Desember 1956, Partai Komunis Angola (PCA) bergabung dengan Partai Perjuangan Bersatu untuk Afrika di Angola (PLUAA) untuk membentuk Gerakan Populer untuk Pembebasan Angola (MPLA). Neto diangkat sebagai presiden, sementara Viriato da Cruz, Presiden PCA, menjabat sebagai Sekretaris Jenderal. Pada tahun 1962, Neto terpilih sebagai ketua MPLA, memimpin perjuangan bersenjata melawan kekuasaan kolonial.
3. Perang Kemerdekaan dan Masa Jabatan Presiden
Masa jabatan António Agostinho Neto ditandai oleh perjuangan panjang untuk kemerdekaan Angola, pembentukan Republik Rakyat Angola, dan kebijakan domestik yang membentuk lanskap politik negara tersebut.
3.1. Perang Kemerdekaan Angola
Neto memimpin MPLA dalam Perang Kemerdekaan Angola melawan kekuasaan kolonial Portugis yang berlangsung dari tahun 1961 hingga 1974. Ia menjadi pemimpin perjuangan bersenjata yang gigih untuk membebaskan Angola dari penjajahan.
3.2. Hubungan Internasional dan Mendapatkan Dukungan
Sebagai pemimpin gerakan kemerdekaan, Neto aktif mencari dukungan internasional. Pada tahun 1962, ia mengunjungi Washington, D.C., dan meminta bantuan dari Pemerintahan Kennedy untuk perangnya melawan Portugal. Namun, pemerintah Amerika Serikat menolaknya karena memiliki kepentingan minyak di Angola kolonial dan memilih untuk mendukung Front Pembebasan Nasional Angola (FNLA) yang relatif anti-Komunis, yang dipimpin oleh Holden Roberto.
Pada tahun 1965, Neto bertemu dengan Che Guevara dan mulai menerima dukungan signifikan dari Kuba. Ia sering mengunjungi Havana, dan ia serta Fidel Castro berbagi pandangan ideologis yang serupa. Hubungan ini menjadi krusial dalam memperoleh dukungan militer dan politik bagi MPLA.
Pada Februari 1973, Neto dan delegasi MPLA mengunjungi Rumania untuk bertemu dengan Presiden Nicolae Ceaușescu dalam perjalanan resmi empat hari untuk membahas masalah politik di Afrika. Pada 17 Februari, Neto juga mengunjungi Bulgaria bersama Lúcio Lara, Ruth Neto, dan pejabat partai lainnya, mencari dukungan dari otoritas Bulgaria dan bertemu dengan beberapa mahasiswa MPLA di sana, termasuk Dino Matrosse yang kemudian menjadi Sekretaris Jenderal MPLA. Delegasi MPLA kemudian melanjutkan perjalanan resmi mereka ke Yugoslavia pada 18-22 Februari untuk bertemu dengan Presiden Josip Broz Tito. Neto menghabiskan sebagian besar waktunya pada tahun 1973 di Eropa, mengunjungi Oslo di Norwegia dan Jenewa pada 2 Juli. Pada 15-16 Juli 1973, Tito dan Ceaușescu bertemu di Yugoslavia untuk membahas situasi di Angola, sementara Neto menghadiri Sidang Pleno Komite Partai Komunis Bulgaria pada 17-19 Juli 1973, didampingi saudara perempuannya, Ruth Neto, dan Dino Matrosse.


3.3. Pembentukan Republik Rakyat Angola
Setelah Revolusi Anyelir di Portugal pada April 1974, yang menggulingkan penerus Salazar, Marcelo Caetano, tiga faksi politik bersaing memperebutkan kekuasaan di Angola. Salah satunya adalah MPLA, tempat Neto bernaung. Pada 11 November 1975, Angola mencapai kemerdekaan penuh dari Portugis, dan Neto menjadi pemimpin negara setelah MPLA berhasil merebut Luanda dari gerakan-gerakan anti-kolonial lainnya. Ia mendeklarasikan pembentukan Republik Rakyat Angola dan menjabat sebagai presiden pertamanya.
3.4. Aktivitas Selama Menjabat Presiden
Sebagai presiden, Neto mendirikan negara satu partai dan mengembangkan hubungan erat dengan Uni Soviet serta negara-negara lain di Blok Timur dan negara-negara komunis lainnya, khususnya Kuba, yang sangat membantu MPLA dalam perang melawan FNLA, Persatuan Nasional untuk Kemerdekaan Penuh Angola (UNITA), dan Afrika Selatan di era Apartheid. Neto menjadikan Marxisme-Leninisme sebagai doktrin resmi MPLA.
Sebagai konsekuensinya, ia dengan keras menumpas gerakan yang kemudian disebut Fraksionisme yang pada tahun 1977 mencoba melakukan kudeta yang diilhami oleh Organização dos Comunistas de Angola. Puluhan ribu pengikut (atau yang diduga pengikut) Nito Alves dieksekusi setelah upaya kudeta tersebut, selama periode yang berlangsung hingga dua tahun, meskipun Agostinho Neto hanya meratifikasi hukuman mati Nito Alves. Setelah berkomunikasi dengan beberapa kerabat dari para korban yang hilang, Neto memutuskan untuk membubarkan Direktorat Informasi dan Keamanan Angola (DISA) atas "ekses" yang telah mereka lakukan. Pada Desember 1977, dalam kongres pertama mereka, MPLA mengubah namanya menjadi MPLA-PT (MPLA Partido do Trabalho), secara resmi mengadopsi ideologi Marxis-Leninis. Menurut putra-putranya, Presiden Neto tidak pernah memberikan bisnis atau hak istimewa kepada mereka, menunjukkan bahwa meskipun kepresidenannya kontroversial, ia tidak pernah melupakan asal-usulnya yang sederhana.
4. Karier Sastra
Karya-karya puisi Agostinho Neto sebagian besar ditulis antara tahun 1946 dan 1960, terutama di Portugal. Ia menerbitkan tiga buku puisi selama hidupnya, dan beberapa puisinya bahkan menjadi lagu kebangsaan.
Kumpulan puisinya meliputi Sacred Hope, yang diterbitkan pada tahun 1974 (dengan judul Dry Eyes dalam versi Portugis). Selain itu, ia adalah anggota pertama yang terpilih dalam Serikat Penulis Anglo dan Pusat Studi Afrika di Lisbon. Karya-karyanya juga diterbitkan di Portugal dan berbagai jurnal, termasuk antologi Puisi Hitam Portugis oleh Mário de Andrade pada tahun 1958. Ia kemudian dianugerahi Hadiah Lotus yang dipersembahkan oleh Konferensi Penulis Afro-Asia.
5. Kehidupan Pribadi
António Agostinho Neto menikah dengan Maria Eugénia da Silva pada tahun 1958. Selama kunjungan ke Bulgaria pada 17 Februari 1973, ia menjalin hubungan singkat dengan seorang wanita Bulgaria yang dengannya ia memiliki seorang putri bernama Mihaela Marinova. Sebuah tes DNA yang dilakukan pada tahun 2013 menyimpulkan dengan keyakinan 95% bahwa Mihaela adalah putrinya. Meskipun kepresidenannya kontroversial, putra-putranya Neto menyatakan bahwa ia tidak pernah memberikan keuntungan bisnis atau hak istimewa kepada anak-anaknya.
6. Kematian

Agostinho Neto meninggal pada Senin, 10 September 1979, di Moskow, Uni Soviet, setelah menjalani operasi untuk kanker dan hepatitis. Ia meninggal satu minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-57. Neto telah lama berjuang melawan kanker pankreas, serta hepatitis kronis yang pada akhirnya merenggut nyawanya. Ia telah beberapa kali pergi ke Uni Soviet untuk perawatan medis karena tingkat profesionalisme medis yang tinggi di sana. Hanya sedikit orang yang mengetahui tentang kesehatannya yang memburuk karena ia dan rekan-rekannya merasa lebih baik menyembunyikan informasi ini, agar tidak menunjukkan kelemahan. Setelah kematiannya, jenazahnya diawetkan melalui proses pembalsaman oleh pihak Soviet, namun makam untuk tempat peristirahatan terakhirnya tidak pernah selesai. Pada Desember 1992, pemerintah Angola memutuskan untuk menguburkan jenazahnya.
7. Penilaian dan Warisan
Agostinho Neto meninggalkan warisan yang kompleks sebagai seorang pemimpin revolusioner, politikus, dan penyair yang membentuk sejarah Angola modern.
7.1. Penilaian Positif
Neto dihormati secara luas atas kepemimpinannya dalam perjuangan kemerdekaan Angola dari penjajahan Portugis. Ia diakui sebagai arsitek berdirinya Republik Rakyat Angola dan presiden pertamanya, memimpin negara melalui masa-masa awal pembangunannya. Kontribusinya dalam dunia sastra juga sangat dihargai, dengan beberapa puisinya yang menjadi lagu kebangsaan dan dianggap sebagai penyair terkemuka Angola. Hari kelahirannya dirayakan sebagai Hari Pahlawan Nasional, sebuah hari libur umum di Angola, sebagai bentuk penghargaan atas perannya yang tak tergantikan.
Ia juga dikenal karena pekerjaannya sebagai dokter di Tanjung Verde, di mana ia dicintai oleh masyarakat.
7.2. Kritik dan Kontroversi
Meskipun prestasinya dalam kemerdekaan, pemerintahan Neto juga menghadapi kritik dan kontroversi signifikan. Ia mendirikan negara satu partai dan dengan keras menumpas oposisi, terutama gerakan Fraksionisme pada tahun 1977. Puluhan ribu pengikut (atau yang diduga pengikut) Nito Alves dieksekusi dalam periode hingga dua tahun setelah upaya kudeta. Tindakan ini menimbulkan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang serius. Bahkan setelah meratifikasi hukuman mati Nito Alves, Neto akhirnya membubarkan Direktorat Informasi dan Keamanan (DISA) karena "ekses" yang mereka lakukan, yang menunjukkan pengakuan atas kekejaman yang terjadi. Hubungannya dengan Blok Timur dan penentangannya terhadap negara-negara seperti Tiongkok, yang mendukung faksi lawan, juga merupakan bagian dari kontroversi politiknya di panggung internasional.
7.3. Peringatan dan Memorial
Banyak tempat dan institusi dinamai untuk menghormati António Agostinho Neto sebagai pengakuan atas warisannya:
- Universitas Agostinho Neto, universitas negeri di Luanda, dinamai menurut namanya.
- Sebuah puisi karya Chinua Achebe berjudul "Agostinho Neto" ditulis untuk menghormatinya.
- Sebuah bandara di Santo Antão, Tanjung Verde, dinamai Bandara Agostinho Neto, karena pekerjaannya yang dicintai di sana sebagai seorang dokter.
- Untuk alasan yang sama, rumah sakit utama Tanjung Verde di ibu kota Praia dinamai "Rumah Sakit Agostinho Neto" (HAN).
- Sebuah morna (jenis musik) juga didedikasikan untuknya.
- Sebuah jalan di Beograd Baru di Serbia dinamai Dr Agostina Neta.
- Sebuah jalan di Ghana (Jalan Agostinho Neto), yang dapat ditemukan di Airport City di ibu kota, dinamai menurut namanya.
- Bandar Udara Internasional Dr. António Agostinho Neto, bandara internasional yang dibuka pada 10 November 2023 di dekat Luanda, juga dinamai menurut namanya.

Mausoleum dan memorial Neto di Luanda 
Patung dada Neto
7.4. Penghargaan dan Gelar Kehormatan Internasional
António Agostinho Neto menerima berbagai penghargaan dan gelar kehormatan internasional selama hidupnya atau secara anumerta:
| Negara | Penghargaan | Keterangan |
|---|---|---|
![]() | Order of Amílcar Cabral, Kelas Pertama | |
![]() | Penerima Order of Playa Girón | |
![]() | Grand Cross of the National Order of Merit | |
![]() | Order of the Most Ancient Welwitschia Mirabilis | |
| Order of Merit of the Republic of Poland, Kelas Pertama | ||
![]() | Supreme Commander of the Order of the Companions of O. R. Tambo | |
![]() Uni Soviet | Penghargaan Perdamaian Lenin | Untuk tahun 1975-76 |
![]() Yugoslavia | Order of the Yugoslav Star | |
| Zimbabwe | Penerima Royal Order of Munhumutapa |
8. Lihat Pula
- Sejarah Angola
- Perang Dingin
- Marxisme-Leninisme
- Pembantaian Ícolo e Bengo






