1. Latar Belakang Pribadi
Alberto César Tarantini lahir pada tanggal 3 Desember 1955 di Ezeiza, Provinsi Buenos Aires, Argentina. Ia memiliki seorang saudara laki-laki bernama George Tarantini yang juga merupakan mantan pelatih sepak bola tingkat perguruan tinggi. Sejak awal kariernya di divisi junior Boca Juniors pada awal tahun 1970-an, Tarantini dikenal dengan gaya rambut afroknya dan gigi depannya yang besar dan menonjol. Ciri khas fisiknya ini membuatnya mendapatkan julukan conejo (conejokelinciBahasa Spanyol).
2. Karier Pemain
Karier profesional Alberto Tarantini sebagai pemain sepak bola mencakup periode yang signifikan di klub-klub Argentina dan Eropa, serta partisipasi penting bersama tim nasional Argentina.
2.1. Karier Klub
Tarantini memulai karier sepak bolanya di divisi junior Boca Juniors pada awal tahun 1970-an, dan melakukan debut profesionalnya pada tahun 1973. Bersama Boca Juniors, ia meraih kesuksesan besar, termasuk memenangkan Divisi Primera Argentina pada Nacional 1976 dan Metropolitano 1976. Puncak kariernya di Boca adalah kemenangan Copa Libertadores 1977, salah satu turnamen klub paling bergengsi di dunia dan yang paling prestisius di sepak bola Amerika Selatan. Dalam final Copa Libertadores 1977, setelah bermain imbang tanpa gol, Boca mengalahkan Cruzeiro 5-4 melalui adu penalti. Pertandingan tersebut diselenggarakan di Estadio Centenario di Montevideo, Uruguay, pada 14 September 1977. Tarantini mencatatkan 179 penampilan tanpa gol untuk Boca Juniors.
q=Estadio Centenario, Montevideo|position=right
Beberapa bulan sebelum Piala Dunia FIFA 1978, ia terlibat dalam sengketa kontrak dengan manajemen Boca Juniors yang menyebabkan ia tanpa klub. Manajemen Boca bahkan menekan semua klub Argentina untuk menolak memberinya kontrak baru. Hal ini juga menjadikannya pemain pertama dalam sejarah yang mencetak gol di Piala Dunia saat berstatus tanpa klub. Setelah penampilan impresifnya di Piala Dunia, ia direkrut oleh Birmingham City dari Inggris dengan biaya transfer 295.00 K GBP. Namun, kariernya di Inggris diwarnai oleh masalah disiplin yang buruk. Salah satu insiden terkenal adalah ketika ia menjatuhkan bek Manchester United, Brian Greenhoff. Masa 23 pertandingan Tarantini di Birmingham berakhir ketika ia terlibat perkelahian dengan penonton yang mencemoohnya. Selama di Birmingham City, ia mencetak 1 gol dalam 23 penampilan.
Setelah kembali ke Argentina, ia bermain untuk Talleres de Córdoba pada tahun 1979, di mana ia mencatatkan 13 penampilan dan 1 gol. Kemudian, ia bergabung dengan River Plate dari tahun 1980 hingga 1983. Bersama River Plate, ia kembali meraih gelar Divisi Primera Argentina, yaitu Metropolitano 1980 dan Nacional 1981.
Tarantini kemudian melanjutkan karier di Eropa. Dari tahun 1983 hingga 1984, ia bermain untuk klub Prancis SC Bastia, mencatatkan 29 penampilan dan 1 gol. Ia kemudian pindah ke Toulouse, juga di Prancis, dari tahun 1984 hingga 1988, di mana ia membuat 130 penampilan dan mencetak 8 gol. Klub terakhirnya adalah FC St. Gallen di Swiss, tempat ia bermain dari tahun 1988 hingga 1989 sebelum pensiun.
2.2. Karier Tim Nasional
Alberto Tarantini memiliki karier yang menonjol bersama tim nasional Argentina. Ia merupakan bagian dari tim nasional sepak bola U-23 Argentina yang memenangkan Turnamen Toulon pada tahun 1975. Di tim U-23 tersebut, ia bermain bersama pemain-pemain seperti Jorge Valdano dan Américo Gallego, di bawah kepelatihan César Luis Menotti.
Ia kemudian menjadi bek kiri utama bagi tim nasional sepak bola Argentina setelah Jorge Carrascosa meninggalkan tim. Pada usia 22 tahun, Tarantini adalah pemain termuda di tim nasional senior saat itu. Ia mencatatkan total 61 penampilan dan mencetak 1 gol untuk tim nasional Argentina.
Tarantini menjadi bagian integral dari tim Argentina yang memenangkan Piala Dunia FIFA 1978 di kandang sendiri. Dalam turnamen tersebut, ia mencetak satu gol dalam kemenangan 6-0 melawan Peru dan bermain di pertandingan final melawan Belanda. Ia juga berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA 1982 di Spanyol. Setelah Piala Dunia 1982, Tarantini segera pensiun dari tim nasional.
3. Gaya Bermain dan Kepribadian
Alberto Tarantini dikenal sebagai bek serbaguna yang mampu bermain sebagai bek kiri murni atau sebagai wing-back. Gaya permainannya ditandai dengan stamina yang kuat dan energi yang tak kenal lelah di sepanjang sisi lapangan. Ia sering maju membantu serangan dan mundur dengan cepat untuk bertahan.
Selain kemampuan fisiknya yang prima, Tarantini juga dikenal karena temperamennya yang berapi-api dan kadang-kadang meledak-ledak di lapangan. Kepribadiannya ini sering kali membuatnya terlibat dalam insiden disipliner, seperti yang terjadi selama kariernya di Birmingham City ketika ia menjatuhkan pemain lawan dan memukul penonton.
4. Turnamen Utama dan Pencapaian
Alberto Tarantini meraih beberapa pencapaian penting dalam turnamen besar sepanjang kariernya:
- Piala Dunia FIFA 1978**: Memenangkan gelar juara bersama tim nasional Argentina.
- Copa Libertadores 1977**: Memenangkan gelar juara bersama Boca Juniors.
- Turnamen Toulon 1975**: Memenangkan gelar juara bersama tim nasional U-23 Argentina.
5. Penghargaan dan Gelar
Alberto Tarantini mengumpulkan sejumlah gelar juara bersama klub dan tim nasional, serta beberapa penghargaan individu atas performanya yang luar biasa.
Klub
- Boca Juniors
- Nacional: 1976
- Metropolitano: 1976
- Copa Libertadores: 1977
- River Plate
- Metropolitano: 1980
- Nacional: 1981
Internasional
- Argentina (Tim Junior)
- Turnamen Toulon: 1975
- Argentina
- Piala Dunia FIFA: 1978
Individu
- Tim All-Star Piala Dunia FIFA: 1978
- Tim Sepanjang Masa AFA (diterbitkan 2015)
- World Soccer World XI: 1978
- IFFHS Tim Impian Sepanjang Masa Argentina (Tim B): 2021
- Sepuluh Besar Pemain Terbaik Amerika Selatan Tahun Ini: 1982
6. Evaluasi dan Kontroversi
Karier Alberto Tarantini, meskipun penuh dengan kesuksesan, juga diwarnai oleh beberapa kontroversi dan masalah disipliner. Salah satu insiden paling menonjol adalah sengketa kontraknya dengan Boca Juniors beberapa bulan sebelum Piala Dunia FIFA 1978. Perselisihan ini menyebabkan ia tidak memiliki klub saat turnamen berlangsung, karena manajemen Boca diduga menekan klub-klub Argentina lainnya untuk tidak memberinya kontrak baru. Meskipun demikian, Tarantini menunjukkan performa luar biasa di Piala Dunia, yang kemudian membawanya ke Birmingham City.
Namun, masa singkatnya di Inggris dinodai oleh masalah disiplin yang serius. Ia dikenal karena temperamennya yang meledak-ledak, yang menyebabkan insiden seperti menjatuhkan bek Manchester United, Brian Greenhoff. Puncak dari masalah disiplinernya adalah ketika ia terlibat perkelahian dengan penonton yang mencemoohnya, yang akhirnya mengakhiri 23 pertandingan singkatnya bersama Birmingham City. Kontroversi-kontroversi ini mencerminkan sisi lain dari kepribadian Tarantini yang dikenal karena semangat juangnya yang tinggi namun juga temperamen yang sulit dikendalikan.
7. Kehidupan Pribadi
Alberto Tarantini menikah dengan seorang model fesyen bernama Patricia "Pata" Villanueva. Ia juga memiliki seorang saudara laki-laki, George Tarantini, yang merupakan mantan pelatih sepak bola tingkat perguruan tinggi.