1. Overview
Malik Kafur (meninggal Februari 1316), juga dikenal dengan nama Taj al-Din Izz al-Dawla (ملک کافورBahasa Urdu), (మాలిక్ కాఫుర్Malik KafurBahasa Telugu), (மாலிக் கபூர்Malik KafurBahasa Tamil), adalah seorang jenderal terkemuka dari penguasa Kesultanan Delhi, Alauddin Khalji. Ia ditangkap oleh jenderal Alauddin, Nusrat Khan, selama invasi Gujarat pada tahun 1299 dan kemudian naik ke tampuk kekuasaan pada awal tahun 1300-an. Sebagai seorang kasim dan budak yang awalnya beragama Hindu, Malik Kafur berhasil menorehkan jejak signifikan dalam sejarah militer dan politik India.
Sebagai komandan pasukan Alauddin, Kafur berhasil mengalahkan para penyerbu Mongol pada tahun 1306. Setelah itu, ia memimpin serangkaian ekspedisi militer ke wilayah selatan India, termasuk melawan Yadava (1308), Kakatiya (1310), Hoysala (1311), dan Pandya (1311). Dari kampanye-kampanye ini, ia membawa kembali banyak harta, gajah, dan kuda untuk Kesultanan Delhi, secara signifikan memperluas pengaruh Muslim di wilayah tersebut.
Antara tahun 1313 dan 1315, Kafur menjabat sebagai gubernur Devagiri. Ketika Alauddin jatuh sakit parah pada tahun 1315, Kafur dipanggil kembali ke Delhi, di mana ia memegang kekuasaan sebagai Na'ib (wali raja). Setelah kematian Alauddin, ia berupaya merebut kendali dengan mengangkat putra bungsu Alauddin, Shihabuddin Omar, sebagai penguasa boneka. Masa perwalian Kafur hanya berlangsung sekitar sebulan sebelum ia dibunuh oleh mantan pengawal pribadi Alauddin. Kakak laki-laki Alauddin, Mubarak Shah, kemudian menggantikannya sebagai wali raja dan tidak lama kemudian merebut kekuasaan untuk dirinya sendiri.
2. Kehidupan Awal dan Karier
Malik Kafur memiliki asal-usul yang sederhana dan naik pangkat di Kesultanan Delhi melalui penaklukan militer dan kecerdasan politiknya.
2.1. Asal Usul dan Penangkapan
Malik Kafur digambarkan berasal dari keturunan Hindu, khususnya kelompok Mahratta, menurut kronikus abad ke-14, Isami. Di masa mudanya, Kafur adalah budak dari seorang Khwaja yang kaya di Khambhat. Ia adalah seorang kasim yang memiliki kecantikan fisik luar biasa. Konon, ia dibeli oleh tuan aslinya seharga 1.000 dinar emas, yang kemudian memberinya julukan hazar-dinari, yang berarti "seribu dinar". Namun, sangat tidak mungkin harga yang sebenarnya dibayarkan mencapai 1.000 dinar; deskripsi ini kemungkinan besar merupakan pujian metaforis terhadap Kafur. Ibnu Batutah (1304-1369) juga menyebut Kafur dengan julukan al-Alfi, yang merupakan padanan kata Arab untuk hazar-dinari, merujuk pada harga pembeliannya, meskipun Ibnu Batutah mungkin keliru menyatakan bahwa julukan tersebut merujuk pada jumlah yang dibayarkan oleh Sultan Alauddin sendiri untuk Kafur.
Kafur ditangkap dari kota pelabuhan Khambhat oleh jenderal Alauddin, Nusrat Khan, selama invasi Gujarat pada tahun 1299.
2.2. Konversi ke Islam dan Dinas Awal
Setelah penangkapannya, Malik Kafur masuk Islam. Nusrat Khan kemudian mempersembahkannya kepada Alauddin di Delhi. Tidak banyak yang diketahui mengenai karier awal Kafur dalam dinas Alauddin. Menurut Isami, Alauddin sangat menyukai Kafur karena "nasihatnya selalu terbukti tepat dan sesuai untuk setiap kesempatan". Kafur dengan cepat naik pangkat, terutama karena kemampuannya yang terbukti sebagai penasihat yang bijaksana dan komandan militer yang cakap. Pada tahun 1306, Kafur telah memegang pangkat barbeg, yang digunakan untuk menunjuk seorang bendahara yang juga bertindak sebagai komandan militer. Pada tahun 1309-1310, ia telah menguasai iqta' (hibah administratif) Rapri.
3. Karier Militer
Malik Kafur adalah seorang komandan militer ulung yang memimpin pasukan Kesultanan Delhi dalam berbagai kampanye penting, termasuk penolakan invasi Mongol dan ekspedisi besar-besaran ke India Selatan yang memperluas pengaruh Muslim di wilayah tersebut.
3.1. Penolakan Invasi Mongol
Pada tahun 1306, Alauddin mengirim pasukan yang dipimpin oleh Malik Kafur ke Punjab untuk memukul mundur invasi Mongol oleh Kekhanan Chagatai. Pasukan Mongol telah maju hingga Sungai Ravi, merampas wilayah sepanjang jalan. Pasukan ini terdiri dari tiga kontingen, yang dipimpin oleh Kopek, Iqbalmand, dan Tai-Bu. Kafur berhasil mengalahkan pasukan Mongol, dengan dukungan dari komandan lain, termasuk Malik Tughluq. Pada saat ini, Kafur dikenal dengan nama Na'ib-i Barbak ("asisten master upacara"), yang mungkin merupakan asal mula namanya Malik Na'ib, meskipun beberapa sejarawan percaya bahwa ini merujuk pada perannya yang lebih penting kemudian sebagai Na'ib-i Sultan (wali raja). Kronikus abad ke-16, `Abd al-Qadir Bada'uni, juga mengklaim Kafur memimpin pasukan Alauddin dalam Pertempuran Amroha tahun 1305. Namun, klaim ini didasarkan pada identifikasi yang keliru antara Malik Nayak (- Malik Nanak) dengan Malik Kafur.
3.2. Kampanye Deccan dan India Selatan
Kafur kemudian dikirim ke Dataran Tinggi Dekkan, sebagai komandan serangkaian serangan militer besar yang meletakkan dasar kekuasaan Muslim di wilayah tersebut.
3.2.1. Penaklukan Devagiri
Pada tahun 1307 atau 1308, Alauddin memutuskan untuk menginvasi kerajaan Yadava di Devagiri, karena rajanya, Ramachandra, telah menghentikan pembayaran upeti kepada Delhi selama tiga atau empat tahun. Alauddin awalnya berniat memilih budak lain, Malik Shahin, gubernur Benteng Chittor, untuk memimpin invasi ini. Namun, Malik Shahin melarikan diri karena takut akan kebangkitan Dinasti Vaghela di wilayah Gujarat tetangga, sehingga Alauddin menunjuk Kafur sebagai gantinya. Alauddin mengambil langkah-langkah untuk mengangkat Kafur di atas semua perwira lain, mengirimkan tenda dan paviliun kerajaan bersamanya, dan mengarahkan para perwira untuk memberi hormat kepada Kafur setiap hari dan menerima perintah darinya. Kafur dengan mudah menaklukkan Yadava. Bersama dengan banyak harta rampasan, Kafur membawa Ramachandra kembali ke Delhi, di mana raja Yadava tersebut mengakui kedaulatan Alauddin.
3.2.2. Penaklukan Warangal
Pada tahun 1309, Alauddin mengirim Kafur dalam ekspedisi ke kerajaan Kakatiya. Pasukan Kafur mencapai ibu kota Kakatiya, Warangal, pada Januari 1310, dan berhasil menerobos benteng luarnya setelah pengepungan selama sebulan. Penguasa Kakatiya, Prataparudra, menyerah dan setuju untuk membayar upeti. Kafur kembali ke Delhi pada Juni 1310 dengan sejumlah besar kekayaan yang diperoleh dari raja yang dikalahkan. Berlian Koh-i-Noor disebut-sebut termasuk di antara harta rampasan tersebut. Alauddin sangat senang dengan Kafur dan memberinya penghargaan yang melimpah.
3.2.3. Kampanye Melawan Hoysala dan Kerajaan Pandya
Di Warangal, Kafur mengetahui bahwa wilayah paling selatan India juga sangat kaya. Ia memperoleh izin Alauddin untuk memimpin ekspedisi ke sana. Ekspedisi ini berangkat pada 19 Oktober 1310, dan mencapai ujung semenanjung India. Pada 25 Februari 1311, Kafur mengepung Dwarasamudra, ibu kota Hoysala, dengan 10.000 tentara. Raja Hoysala, Ballala, menyerahkan kekayaan yang sangat besar sebagai bagian dari negosiasi gencatan senjata, dan setuju untuk membayar upeti tahunan kepada Kesultanan Delhi.
Dari Dwarasamudra, Kafur melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Pandya di wilayah Mabar (wilayah Tamil). Pada saat itu, di Kerajaan Pandya sedang terjadi konflik internal antara dua pangeran bersaudara, Jatavarman Sundara Pandya dan Jatavarman Veera Pandya. Sundara Pandya telah membunuh ayahnya, Maravarman Kulasekara Pandya, pada tahun 1310 untuk mendapatkan takhta, tetapi ia diusir dari ibu kota Madurai oleh Veera Pandya dan meminta bantuan Malik Kafur. Mengetahui bahwa Veera Pandya mendukung Ballala III dari Hoysala, Malik Kafur menyetujui permintaan bantuan tersebut. Pada Maret 1311, Kafur menyerbu beberapa tempat di Kerajaan Pandya, termasuk menyerang ibu kota Madurai pada 24 April. Ia berhasil memperoleh banyak harta rampasan, gajah, dan kuda. Meskipun demikian, ekspedisi ini tidak sepenuhnya berhasil karena penguasa Pandya tidak keluar untuk bertempur, sehingga pasukannya tidak dapat dikalahkan secara total dan tidak ada kesepakatan upeti tahunan yang tercapai. Namun, Kafur berhasil menjarah Candi Chidambaram dan memperoleh kekayaan yang sangat besar. Ia bahkan maju hingga Rameswaram, membangun sebuah masjid di sana, dan membacakan khutbah atas nama Alauddin. Kafur kembali ke Delhi dengan kemenangan pada 18 Oktober 1311. Menurut kronikus Barani, rampasan perang dari ekspedisi ini meliputi 612 gajah, sejumlah besar emas dan permata, serta 20.000 kuda. Tujuan utama ekspedisi selatan Malik Kafur adalah untuk mendapatkan kekayaan, bukan untuk mendirikan dominasi permanen. Oleh karena itu, pembayaran upeti tahunan memerlukan ekspedisi lanjutan setiap tahunnya.
3.3. Gubernur Devagiri
Pada tahun 1313, kemungkinan atas permintaannya sendiri, Kafur memimpin ekspedisi lain ke Devagiri setelah penerus Ramachandra, Singhana (atau Shankaradeva), menolak untuk melanjutkan pembayaran upeti. Kafur berhasil menaklukkan Singhana dan menganeksasi Devagiri ke Kesultanan Delhi. Kafur tetap berada di Devagiri sebagai gubernur wilayah yang baru dianeksasi selama dua tahun. Selama masa jabatannya, ia mengelola wilayah tersebut dengan simpati dan efisiensi. Ia dipanggil kembali ke Delhi pada tahun 1315 karena kesehatan Alauddin mulai memburuk secara serius. Ia menyerahkan Devagiri kepada Ayn al-Mulk Multani.
4. Kebangkitan Politik dan Pengaruh
Malik Kafur secara signifikan meningkatkan kedudukannya di Kesultanan Delhi, mencapai posisi wali raja, dan mengonsolidasikan kekuasaannya melalui hubungan dekat dengan sultan yang sakit serta manuver politik yang kejam untuk menyingkirkan lawan.
4.1. Penunjukan sebagai Na'ib (Wali Raja)
Kafur akhirnya naik ke posisi Na'ib (wali raja), meskipun tanggal pasti penunjukannya pada posisi ini tidak diketahui. Pada tahun 1315, ketika Alauddin jatuh sakit parah, Kafur dipanggil kembali dari Devagiri ke Delhi.
4.2. Hubungan dengan Alauddin Khalji
Malik Kafur ditangkap oleh pasukan Dinasti Khalji pada tahun 1299 dan sejak itu menarik perhatian Alauddin. Sebuah ikatan emosional yang mendalam berkembang di antara keduanya. Selama masa pemerintahannya, bahkan sebelum sakit, Alauddin sangat terpesona dengan Kafur, membedakannya di atas semua teman dan pembantunya yang lain, dan Kafur memegang tempat tertinggi dalam penghormatannya. Mengenai masa ketika Alauddin sakit, kronikus Ziauddin Barani (1285-1357) menyatakan bahwa "Dalam empat atau lima tahun ketika Sultan kehilangan ingatan dan akal sehatnya, ia telah jatuh cinta sangat dalam dan gila-gilaan kepada Malik Naib. Ia telah mempercayakan responsibilitas pemerintahan dan kendali para pelayan kepada orang yang tidak berguna, tidak tahu berterima kasih, tidak tahu diri, dan sodomitis ini."
Berdasarkan deskripsi Barani, beberapa sarjana, termasuk Ruth Vanita dan Saleem Kidwai, percaya bahwa Alauddin dan Kafur memiliki hubungan homoseksual. Namun, sejarawan Banarsi Prasad Saksena menyatakan bahwa Alauddin memang terpesona dengan Kafur selama tahun-tahun terakhir pemerintahannya, tetapi ia percaya bahwa kedekatan antara keduanya bukanlah hubungan seksual. Menurut Saksena, Alauddin lebih percaya pada Kafur daripada perwira lainnya karena, tidak seperti perwira lainnya, Kafur tidak memiliki keluarga atau pengikut yang bisa menjadi ancaman baginya. Selama hari-hari terakhir pemerintahan Alauddin, Kafur melarang siapa pun melihat sultan dan menjadi penguasa de facto Kesultanan.
4.3. Manuver Politik dan Eliminasi Pesaing
Kekuasaan Kafur terancam oleh Alp Khan, seorang bangsawan berpengaruh yang memiliki dua putri yang menikah dengan putra-putra Alauddin, Khizr Khan (putra mahkota) dan Shadi Khan. Kafur berhasil meyakinkan Alauddin untuk memerintahkan pembunuhan Alp Khan di istana kerajaan. Ia juga memerintahkan Khizr Khan untuk diasingkan dari istana ke Amroha, kemudian dipenjarakan di Gwalior, dan Shadi Khan, saudara Khizr, juga dipenjarakan. Menurut cerita yang beredar hingga ke Persia, Khizr Khan, ibunya, dan Alp Khan telah merencanakan konspirasi untuk meracuni Alauddin agar Khizr Khan bisa diangkat sebagai Sultan baru, tetapi Alauddin berhasil mengeksekusi mereka semua sebelum ia meninggal. Kisah ini dikuatkan sampai batas tertentu oleh Ibnu Batutah, namun mungkin saja cerita ini hanyalah propaganda Kafur.
Selanjutnya, Kafur mengumpulkan pertemuan perwira penting di samping tempat tidur Alauddin. Dalam pertemuan ini, putra Alauddin yang berusia enam tahun, Shihabuddin, dinyatakan sebagai ahli waris baru, dan diputuskan bahwa Kafur akan bertindak sebagai wali raja setelah kematian Alauddin. Menurut Isami, Alauddin terlalu lemah untuk berbicara selama pertemuan itu, tetapi keheningannya dianggap sebagai persetujuan. Perwira yang mendukung Kafur termasuk Kamal al-Din "Gurg", yang keluarganya berasal dari Kabul. Tampaknya Kafur dan perwira lain yang bukan keturunan Turkik bersekutu untuk melawan dominasi Khalaj di Kesultanan.
5. Wali Raja dan Kejatuhan
Setelah kematian Alauddin Khalji, Malik Kafur secara efektif mengambil alih kekuasaan sebagai wali raja, menempatkan putra bungsu sultan sebagai penguasa boneka. Tindakan kejamnya untuk mengkonsolidasi kekuasaan, termasuk membutakan lawan politik, akhirnya menyebabkan pembunuhannya.

5.1. Menjalankan Jabatan Wali Raja
Ketika Alauddin meninggal pada malam 4 Januari 1316, Kafur membawa jenazahnya dari Istana Siri dan memakamkannya di makam yang telah dibangun sebelum kematian Alauddin. Barani mengklaim bahwa, menurut "beberapa orang", Kafur membunuh Alauddin.
Sehari setelah kematian Alauddin, Kafur mengumpulkan pertemuan perwira dan bangsawan penting di istana. Di sana, ia membacakan surat wasiat sultan yang telah meninggal, yang menunjuk Shihabuddin sebagai penggantinya sekaligus mencoret Khizr Khan dari daftar warisan, dan kemudian mendudukkan Shihabuddin di atas takhta sebagai Sultan baru. Sebagai wali raja, Kafur memegang kekuasaan untuk waktu yang singkat-35 hari, menurut Barani; 1 bulan, menurut Isami; dan 25 hari, menurut sejarawan abad ke-16 Firishta. Selama periode ini, ia mengadakan pengadilan seremonial harian di pagi hari di Istana Hazar Sutun. Setelah upacara singkat, Kafur akan mengirim Shihabuddin kepada ibunya, dan membubarkan para abdi dalem. Ia kemudian akan bertemu dengan para perwira di ruangannya di lantai dasar, dan mengeluarkan berbagai perintah. Ia memerintahkan kementerian keuangan, kesekretariatan, perang, dan perdagangan untuk mempertahankan hukum dan peraturan yang ditetapkan oleh Alauddin. Perwira-perwira kementerian diminta untuk berkonsultasi dengan Kafur mengenai semua masalah kebijakan.
5.2. Tindakan sebagai Wali Raja
Kafur mengambil beberapa tindakan untuk mempertahankan kendalinya atas takhta. Sebelum memakamkan Alauddin, ia telah mengambil cincin kerajaan dari jari Sultan. Ia memberikan cincin ini kepada jenderalnya, Sumbul, dan memintanya untuk bergerak ke Benteng Gwalior dan mengambil alih benteng tersebut, menggunakan cincin itu sebagai simbol otoritas kerajaan. Ia meminta Sumbul untuk mengirim gubernur benteng itu ke Delhi, dan memerintahkan Sumbul untuk kembali ke Delhi setelah membutakan Khizr Khan, yang telah dipenjarakan di Gwalior. Sumbul melaksanakan perintah ini, dan diangkat sebagai Amir-i Hijab (Panglima Setia) sebagai hadiah. Pada hari pertamanya sebagai wali raja, Kafur juga memerintahkan tukang cukurnya untuk membutakan Shadi Khan, saudara seibu Khizr Khan. Insiden ini semakin mengintensifkan kebencian terhadap Kafur di kalangan bangsawan Turkik.
Kafur mencabut semua properti ratu senior Alauddin, yang menyandang gelar Malika-i-Jahan, dan kemudian memenjarakannya di benteng Gwalior. Ia juga memenjarakan Mubarak Shah, putra Alauddin lainnya yang sudah dewasa. Menurut Firishta, Kafur menikahi janda Alauddin, Jhatyapalli, ibu dari Shihabuddin. Menjadi ayah tiri Sultan yang baru mungkin merupakan cara Kafur untuk melegitimasi kekuasaannya.
Pembunuhan Alp Khan telah memicu pemberontakan di Gujarat, dan Kafur telah mengirim Kamal al-Din "Gurg" untuk menumpasnya. Sementara itu, Kafur memanggil gubernur Devagiri, Ayn al-Mulk Multani, ke Delhi bersama semua prajuritnya. Saat Multani dalam perjalanan, Kamal al-Din terbunuh di Gujarat. Kafur kemudian menunjuk Multani sebagai gubernur Gujarat, dan memintanya untuk berbaris ke sana untuk menumpas pemberontakan. Pemberontakan ini baru bisa ditumpas setelah kematian Kafur.
5.3. Pembunuhan
Para mantan pengawal pribadi Alauddin (paiks), yang dipimpin oleh Mubashshir, Bashir, Saleh, dan Munir, tidak menyetujui tindakan Kafur terhadap keluarga tuan mereka yang telah meninggal. Mereka memutuskan untuk membunuh Kafur. Ketika Kafur mulai mencurigai adanya konspirasi terhadap dirinya, ia memanggil Mubashshir ke kamarnya. Mubashshir, yang diizinkan membawa senjata di kamar kerajaan sejak zaman Alauddin, melukai Kafur dengan pedangnya. Rekan-rekannya kemudian masuk ke ruangan dan memenggal kepala Kafur, serta membunuh dua atau tiga penjaga gerbang yang mencoba melindunginya. Peristiwa ini terjadi sekitar Februari 1316.
Menurut sebuah catatan yang dikutip oleh kronikus abad ke-16 Firishta, Kafur telah mengirim beberapa paiks untuk membutakan Mubarak Shah, tetapi pangeran yang ditawan itu memberi mereka kalung permatanya dan meyakinkan mereka untuk membunuh Kafur sebagai gantinya. Legenda lain mengaitkan kematian Kafur dengan doa ibunya kepada mistikus Shaikhzada Jam. Namun, catatan-catatan ini adalah rekayasa di kemudian hari. Menurut catatan kontemporer Barani, para paiks memutuskan untuk membunuh Kafur atas inisiatif mereka sendiri.
Para pembunuh Kafur membebaskan Mubarak Shah, yang kemudian diangkat sebagai wali raja baru. Beberapa bulan kemudian, Mubarak Shah merebut kendali dengan membutakan Shihabuddin. Para pembunuh Kafur mengklaim berjasa mengangkat Mubarak Shah sebagai raja dan mulai menuntut posisi tinggi di istana kerajaan. Namun, Mubarak Shah justru memerintahkan eksekusi mereka.
6. Warisan dan Penilaian
Warisan Malik Kafur adalah kompleks, dicirikan oleh pencapaian militer yang signifikan dan juga manuver politik yang kontroversial. Penilaian historisnya bervariasi, seringkali dipengaruhi oleh bias terhadap asal-usulnya. Meskipun makamnya tidak diketahui saat ini, ia tetap menjadi sosok penting dalam sejarah Kesultanan Delhi.
6.1. Penilaian Historis
Kronikus Barani sangat kritis terhadap Kafur, bahkan menyebutnya "orang jahat". Namun, sejarawan Abraham Eraly berpendapat bahwa kritik Barani terhadap Kafur tidak sepenuhnya kredibel, karena Barani sangat berprasangka buruk terhadapnya, kemungkinan besar karena asal-usul Kafur yang non-Turkik (Hindu yang masuk Islam) dan statusnya sebagai kasim. Meskipun demikian, pencapaian militer Malik Kafur di India Selatan sangatlah besar. Pasukan Muslim untuk pertama kalinya mencapai Madurai di bawah kepemimpinannya, dan ia membawa kekayaan yang luar biasa ke Delhi, yang turut berkontribusi pada perkembangan budaya. Alauddin sendiri memuji Kafur.
Sebelumnya, tokoh-tokoh lain dari kalangan mualaf India juga pernah naik ke tampuk kekuasaan dan memegang kendali politik, seperti Imaduddin Raihan, seorang bangsawan dari Dinasti Budak, yang sempat menjadi wali raja dan berhasil menggulingkan Ghiyasuddin Balban untuk sementara waktu.
6.2. Makam
Lokasi makam Malik Kafur tidak diketahui hingga saat ini. Namun, makamnya pernah ada pada abad ke-14 dan kemudian direnovasi oleh Sultan Firuz Shah Tughlaq (memerintah 1351-1388). Autobiografi Firuz Shah, Futuhat-i-Firuzshahi, menyatakan: "Makam Malik Taj-ul-Mulk Kafur, wazir besar Sultan Ala-ud-din. Dia adalah menteri yang paling bijaksana dan cerdas, dan telah menaklukkan banyak negara, yang kuda-kuda para penguasa sebelumnya tidak pernah menginjakkan kakinya, dan dia menyebabkan Khutbah Sultan Ala-ud-din diulang di sana. Dia memiliki 52.000 pasukan berkuda. Kuburannya telah diratakan dengan tanah, dan makamnya dihancurkan. Saya menyebabkan makamnya diperbaharui sepenuhnya, karena dia adalah subjek yang setia dan patuh."
7. Budaya Populer
7.1. Penggambaran dalam Film
Dalam film Bollywood tahun 2018, Padmaavat, Malik Kafur diperankan oleh Jim Sarbh.