1. Latar Belakang dan Kehidupan Awal
Liu He memiliki latar belakang keluarga yang terkemuka dan mewarisi gelar kerajaan di usia muda. Namun, perilaku dan reputasinya selama menjabat sebagai Raja Changyi telah memicu kekhawatiran di kalangan para pejabat.
1.1. Latar Belakang Keluarga
Liu He adalah cucu dari Kaisar Wu dari Han. Ayahnya adalah Liu Bo (劉髆Liu BoBahasa Tionghoa), Raja Ai dari Changyi (昌邑哀王), yang meninggal pada 88 SM. Liu He kemudian mewarisi kerajaan ayahnya pada 86 SM. Catatan sejarah menunjukkan bahwa ia masih sangat muda, kemungkinan balita, saat itu. Liu Bo sendiri adalah salah satu kandidat untuk gelar putra mahkota setelah putra mahkota Kaisar Wu, Liu Ju, bunuh diri pada 91 SM, meskipun gelar tersebut akhirnya jatuh kepada Liu Fuling.
1.2. Masa Kecil dan Pendidikan
Sejak masa remajanya, Liu He telah menunjukkan perilaku yang tidak pantas. Wang Ji (王吉), walikota ibu kota kerajaannya, pernah memberikan kritik jujur terhadap perilaku Liu He, mendesaknya untuk lebih rajin belajar dan rendah hati. Meskipun Liu He menghargai laporan Wang dan memberinya hadiah, ia tidak mengubah kebiasaannya. Demikian pula, ketika Liu He bergaul dengan orang-orang yang bereputasi buruk yang terlibat dalam vulgaritas dan pemborosan, komandan pengawalnya, Gong Sui (龔遂), memohon padanya untuk berubah. Liu He setuju, tetapi segera setelah itu ia memecat pengawal yang direkomendasikan Gong dan membawa kembali teman-teman lamanya. Gong Sui tidak dapat berbuat apa-apa.
1.3. Sebagai Raja Changyi
Selama menjabat sebagai Raja Changyi, perilaku Liu He dicatat sebagai tidak terkendali dan tidak pantas. Ia diketahui bergaul dengan orang-orang yang bereputasi buruk, terlibat dalam tindakan vulgar, dan menghabiskan uang secara boros. Reputasinya sebagai seorang pangeran yang tidak disiplin telah terbentuk jauh sebelum ia naik takhta.
2. Naik Takhta
Proses naiknya Liu He ke takhta kekaisaran terjadi dengan cepat dan diwarnai oleh perilaku kontroversialnya bahkan sebelum ia resmi menjadi kaisar.
Ketika pamannya, Kaisar Zhao dari Han, meninggal pada 74 SM tanpa seorang putra, regent Huo Guang menolak Liu Xu (劉胥), Pangeran Guangling dan satu-satunya putra Kaisar Wu yang masih hidup, dari suksesi karena Kaisar Wu sendiri tidak menyukai Pangeran Xu. Oleh karena itu, Huo Guang beralih kepada Pangeran He, yang merupakan cucu Kaisar Wu.
Pangeran He sangat gembira dengan keputusan ini dan segera berangkat dari ibu kotanya, Shanyang (山陽, di Jining, Shandong modern), menuju ibu kota kekaisaran Chang'an. Ia melakukan perjalanan dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga kuda-kuda pengawalnya mati karena kelelahan. Wang Ji mendesaknya untuk tidak terburu-buru, dengan alasan bahwa perilaku tersebut tidak pantas selama masa berkabung, tetapi Pangeran He mengabaikan saran tersebut. Sepanjang jalan, ia memerintahkan pejabat pemerintah setempat untuk menawarinya jenis ayam khusus (dikenal karena kemampuannya berkokok lama) dan wanita. Selama periode berkabung, ia seharusnya dilarang melakukan hubungan seksual. Ketika Gong Sui menegurnya mengenai hal ini, ia menyalahkan direktur budaknya, yang kemudian dieksekusi.
Ketika Pangeran He tiba di ibu kota, ia pertama kali tinggal di misi Changyi di ibu kota. Ia kemudian menghadiri sesi formal berkabung untuk Kaisar Zhao, sebelum secara resmi menerima takhta.
3. Masa Pemerintahan Singkat dan Pemecatan
Masa pemerintahan Liu He sebagai kaisar hanya berlangsung selama 27 hari, ditandai oleh serangkaian tindakan yang dianggap tidak pantas dan pelanggaran etiket istana, yang pada akhirnya menyebabkan pemecatannya oleh para pejabat tinggi.
Begitu ia menjadi kaisar, Pangeran He segera mulai memberikan promosi cepat kepada bawahannya dari Changyi. Ia juga gagal mematuhi periode berkabung dengan benar. Sebaliknya, ia berpesta siang dan malam serta melakukan tur. Ia bahkan diketahui memiliki hubungan dengan para pelayan wanita Kaisar Zhao dan menggunakan kereta milik Ibu Suri untuk para pelayannya, menyebabkan kekacauan dalam etiket istana. Gong Sui menjadi khawatir, tetapi tidak dapat membuat Pangeran He mengubah kebiasaannya.
Perilaku Pangeran He sebagai kaisar mengejutkan dan mengecewakan Huo Guang, yang mulai mempertimbangkan pilihannya. Atas saran dari menteri pertanian Tian Yannian (田延年), Huo Guang mulai mempertimbangkan untuk menggulingkan kaisar baru tersebut. Ia berkonsultasi dengan Jenderal Zhang Anshi (張安世) dan Perdana Menteri Yang Chang (楊敞), yang menyetujui rencana tersebut; Yang Chang setuju atas desakan istrinya, Sima Ying, putri dari Sima Qian.
Hanya 27 hari setelah pemerintahan kaisar baru dimulai, Huo Guang dan para pejabat lainnya menggulingkannya. Mereka mengadakan pertemuan pejabat tingkat tinggi dan mengumumkan rencana untuk menggulingkan kaisar, memaksa pejabat lain untuk menyetujui rencana tersebut atau dibunuh. Bersama-sama, mereka pergi ke istana Ibu Suri Shangguan untuk melaporkan pelanggaran Pangeran He dan rencana mereka. Ibu Suri setuju dengan rencana mereka dan memerintahkan agar bawahan Pangeran He dari Changyi segera dilarang masuk istana. Bawahan-bawahan ini (sekitar 200 orang) kemudian ditangkap oleh Zhang Anshi. Ibu Suri kemudian memanggil Pangeran He, yang tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia baru menyadari ada yang tidak beres ketika ia melihat Ibu Suri Shangguan duduk di singgasananya dan mengenakan gaun formal berhiaskan permata, serta para pejabat berbaris di sampingnya.
Huo Guang dan para pejabat tinggi kemudian mengajukan pasal-pasal pemakzulan terhadap Pangeran He, dan pasal-pasal ini dibacakan dengan lantang kepada Ibu Suri. Ibu Suri Shangguan secara lisan menegur Pangeran He. Pasal-pasal pemakzulan mencantumkan pelanggaran utama (total 1127 contoh pelanggaran) yang dilakukan Pangeran He selama 27 hari masa pemerintahannya sebagai kaisar, antara lain:
- Penolakan untuk berpantang daging dan seks selama periode berkabung.
- Kegagalan menjaga keamanan brankas kekaisaran.
- Mempromosikan dan menghargai bawahan Changyi secara tidak pantas selama periode berkabung.
- Terlibat dalam pesta dan permainan selama periode berkabung.
- Mempersembahkan korban kepada ayahnya selama periode berkabung untuk pamannya.
Ibu Suri Shangguan menyetujui pasal-pasal pemakzulan dan memerintahkan Pangeran He untuk digulingkan. Ia kemudian diangkut di bawah pengawalan ketat kembali ke misi Changyi. Baik Pangeran He maupun Huo Guang saling meminta maaf secara pribadi.
Beberapa sejarawan, seperti Nishijima Sadao, berpendapat bahwa perlakuan keras terhadap para pejabat Changyi yang setia kepada Liu He (yang sebagian besar dieksekusi) mungkin mengindikasikan adanya rencana dari Liu He dan para pengikutnya untuk menyingkirkan Huo Guang dan mengkonsolidasikan kekuasaannya. Jika teori ini benar, pemecatan Liu He bisa jadi merupakan tindakan balasan atau "kudeta balik" oleh Huo Guang dan sekutunya.
4. Kehidupan Setelah Pemecatan
Setelah dipecat dari takhta, Liu He menjalani sisa hidupnya dengan pangkat yang lebih rendah, meskipun masih memiliki beberapa hak istimewa, dan terus berada di bawah pengawasan kekaisaran.
Sebagai bagian dari pasal-pasal pemakzulan, para pejabat meminta Ibu Suri Shangguan untuk mengasingkan Pangeran He ke lokasi terpencil. Namun, ia tidak melakukannya, melainkan mengembalikannya ke Changyi tanpa gelar apa pun, meskipun ia diberi wilayah kekuasaan kecil sebagai Marquis Haihun yang terdiri dari 4.000 keluarga yang akan membayar upeti kepadanya. Keempat saudara perempuannya juga diberi wilayah kekuasaan yang lebih kecil, masing-masing 1.000 keluarga. Namun, beberapa tahun kemudian, wilayah kekuasaannya dikurangi dari 4.000 menjadi hanya 1.000 keluarga setelah ia ditegur karena perkataannya kepada pengunjung.
Bawahan Pangeran He dari Changyi dituduh gagal mengendalikan perilakunya dan hampir semuanya dieksekusi. Wang Ji dan Gong Sui diselamatkan karena nasihat mereka sebelumnya kepada Pangeran He, tetapi diperintahkan untuk menjalani kerja paksa. Satu-satunya pejabat lain yang diselamatkan adalah guru Pangeran He, Wang Shi (王式), yang berhasil berargumen bahwa ia telah mencoba menggunakan ajaran puisi untuk menunjukkan kepada Pangeran He apa yang pantas dan tidak pantas.
Huo Guang kemudian memilih Liu Bingyi (劉病已), cucu rakyat jelata dari mantan Putra Mahkota Liu Ju (paman Pangeran He), sebagai kaisar baru, dan ia naik takhta 27 hari kemudian sebagai Kaisar Xuan dari Han. Selama bertahun-tahun, meskipun Pangeran He tidak berdaya dan tanpa gelar, Kaisar Xuan mencurigainya. Namun, sebuah laporan oleh Zhang Chang (張敞), gubernur Komanderi Shanyang, pada 64 SM, di mana Zhang meremehkan tingkat kecerdasan Pangeran He, meredakan kekhawatiran tersebut. Sebuah laporan lain dari seorang gubernur yang mengunjungi Liu He di kemudian hari menyatakan bahwa Liu He, yang saat itu berusia akhir 20-an, sudah tidak dapat berjalan karena menderita stroke.
Pada 63 SM, Kaisar Xuan menjadikan Pangeran He sebagai Marquis Haihun, sebuah daerah yang terletak di Jiangxi modern. Diperkirakan bahwa Kaisar Xuan terus mengkhawatirkan Pangeran He meskipun ada laporan Zhang Chang, dan oleh karena itu memilih untuk mengirimnya jauh dari bekas wilayah kerajaannya. Liu He meninggal pada 59 SM sebagai seorang marquis, pada usia 33 tahun, meninggalkan 16 istri dan 22 anak. Biji melon yang ditemukan di perutnya saat penggalian makam menunjukkan bahwa ia kemungkinan meninggal pada musim panas. Putranya, Liu Daizong (劉代宗Liu DaizongBahasa Tionghoa), awalnya tidak diizinkan mewarisi gelarnya, tetapi akhirnya diizinkan melakukannya selama pemerintahan Kaisar Yuan dari Han. Dua putranya yang lain, Liu Chongguo (劉充國Liu ChongguoBahasa Tionghoa) dan Liu Fengqin (劉奉親Liu FengqinBahasa Tionghoa), juga meninggal.
5. Penemuan dan Penggalian Makam Marquis Haihun
Penemuan makam Marquis Haihun pada tahun 2011 menjadi salah satu penemuan arkeologi terpenting di Tiongkok, yang memberikan wawasan mendalam tentang kehidupan Liu He dan budaya Dinasti Han Barat.

Makam Marquis Haihun ditemukan pada tahun 2011 di bagian utara Distrik Xinjian di Jiangxi, dalam sebuah pemakaman yang berisi total sembilan makam. Penggalian masih berlangsung hingga saat ini. Pada 2016, pemerintah Provinsi Jiangxi mengkonfirmasi bahwa makam tersebut adalah milik Liu He. Makam ini telah diajukan untuk masuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.
Sekitar 20.000 artefak telah digali dari makam tersebut. Penemuan ini sangat signifikan karena memberikan informasi yang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah tradisional, termasuk tanggal pasti kematian Liu He.
5.1. Artefak dan Teks yang Digali
Penggalian makam Marquis Haihun telah mengungkap berbagai temuan penting, termasuk artefak berharga dan naskah kuno yang memberikan wawasan baru tentang pemikiran dan budaya masa itu.
5.1.1. Artefak Utama
Di antara artefak yang digali, terdapat lebih dari 300 objek emas, 2 juta koin tembaga, dan sebuah cermin yang berisi gambar Konfusius tertua yang diketahui. Cermin ini, yang tingginya sekitar 96 cm dan lebarnya 68 cm, awalnya diidentifikasi sebagai cermin rias, namun kemudian diperdebatkan oleh beberapa sarjana sebagai jimat. Cermin perunggu ini dihiasi dengan representasi Raja Ayah dari Timur, Ibu Ratu dari Barat, dan "Empat Roh" (Empat Simbol). Dua potong kayu yang dihiasi bangau juga ditemukan, meskipun kondisinya buruk, dan diduga merupakan panel lipat yang awalnya menutupi cermin. Sisi belakang cermin memiliki representasi Konfusius dan murid-muridnya, dengan biografi mereka tertulis di sekitar penggambaran.
Selain itu, ditemukan pula stempel pribadi Liu He, lampu perunggu berbentuk angsa, selusin perisai (berukuran sekitar 90 cm kali 50 cm) yang ditemukan di ujung selatan makam utama. Perisai-perisai ini ditemukan dalam keadaan pecah dan telah direkonstruksi oleh para sarjana. Dua di antaranya menggambarkan naga; satu perisai menggambarkan dua manusia yang tampaknya terlibat dalam pertarungan dengan dua hewan, dan memiliki inskripsi singkat yang melaporkan bahan yang digunakan dalam produksi perisai, biayanya, dan tahun produksinya. Praktik pencatatan nilai objek pada objek itu sendiri lazim dalam budaya Han. Sebuah penyangga drum dengan figur hewan sebagai penyangganya juga ditemukan. Yang menarik, sebuah penyuling perunggu juga ditemukan, yang mengindikasikan kemungkinan produksi minuman beralkohol suling sudah ada pada masa Dinasti Han Barat.
5.1.2. Teks dan Naskah Kuno
Makam ini juga menyimpan lebih dari 5200 slip bambu, yang merupakan naskah-naskah kuno yang memberikan informasi berharga. Di antaranya adalah versi Qi dari Analects (Lunyu), yang telah lama hilang. Studi awal menunjukkan bahwa makam tersebut berisi manuskrip yang sebagian besar tumpang tindih dengan Kitab Odes, Analects, Kitab Bakti Anak, dan Catatan Musim Semi dan Musim Gugur.
Teks-teks lain yang ditemukan dari makam meliputi:
- Bao fu (保傅), yang isinya sebelumnya dikenal dari bab-bab dalam Liji (禮記) dan Da dai liji (大戴禮記).
- Sekitar sepuluh slip tentang moralitas, sementara diberi judul Li yi jian (禮儀簡) atau "Tulisan tentang ritual dan moralitas".
- Sebuah teks berjudul Dao wang fu (悼亡賦), yang isinya sulit diinterpretasikan tetapi tampaknya terkait dengan ekspresi berkabung.
- Sebuah teks yang membahas permainan Liubo (六博), topik yang dibahas dalam manuskrip lain dari era Periode Negara Berperang.
- Serangkaian slip tentang ramalan. Satu kelompok telah dikumpulkan dengan judul Yi zhan (易占), karena isinya tentang ramalan (termasuk nama dan heksagram).
5.1.3. Dokumen Terkait Kerajaan
Di antara slip bambu yang ditemukan, para arkeolog menemukan sisa-sisa dekrit oleh Kaisar Xuan dari Han mengenai pembubaran wilayah kekuasaan Haihun setelah kematian Marquis dan putra-putranya. Beberapa informasi yang terungkap tidak tercatat dalam buku-buku sejarah seperti Buku Han, termasuk tanggal pasti kematian Marquis, yaitu 8 September 59 SM. Slip-slip tersebut juga menyebutkan bahwa wilayah kekuasaan Haihun dilanda berbagai bencana alam, termasuk banjir dan kekeringan. Slip-slip tersebut juga menyebutkan laporan oleh gubernur Yuzhang mengenai pembubaran wilayah kekuasaan, yang sesuai dengan Buku Han. Dari slip-slip tersebut, dihitung bahwa waktu antara kematian Marquis dan putra-putranya serta pembubaran wilayah kekuasaan kurang dari 40 hari.
Proses pembubaran wilayah kekuasaan Haihun sangat berbeda dari pembubaran wilayah kekuasaan lainnya. Misalnya, pada September 112 SM, Kaisar Wu dari Han mengeluarkan dekrit yang membubarkan lebih dari 100 wilayah kekuasaan marquis tanpa diskusi di istana. Wilayah kekuasaan Haihun, bagaimanapun, melalui proses diskusi yang panjang dengan pejabat istana, dan dekrit pembubaran terakhir ditandatangani oleh lebih dari 100 pejabat, termasuk Kanselir Bing Ji dan Jaksa Agung Xiao Wangzhi.
6. Evaluasi Sejarah dan Dampak
Evaluasi sejarah terhadap Liu He telah berkembang seiring waktu, terutama dengan adanya penemuan arkeologi yang memberikan konteks baru terhadap narasi tradisional.
Secara tradisional, Liu He digambarkan sebagai kaisar yang tidak bermoral, tidak kompeten, dan terlalu terikat pada kesenangan, yang menyebabkan pemecatannya yang cepat. Catatan sejarah seperti Buku Han dan Zizhi Tongjian sangat menekankan pelanggaran-pelanggarannya selama masa pemerintahan singkatnya.
Namun, penemuan makam Marquis Haihun telah membuka interpretasi baru. Keberadaan teks-teks Konfusianisme dan artefak budaya yang kaya di makamnya menunjukkan bahwa ia mungkin memiliki minat yang lebih dalam pada pembelajaran dan budaya daripada yang digambarkan oleh catatan sejarah resmi, yang mungkin bias karena ditulis setelah pemecatannya.
Selain itu, teori yang diajukan oleh sejarawan Jepang Nishijima Sadao, yang menyatakan bahwa Liu He mungkin telah mencoba melakukan kudeta terhadap Huo Guang, menambahkan dimensi politik yang kompleks pada pemecatannya. Jika benar, ini menunjukkan bahwa kejatuhannya bukan hanya karena ketidakmampuan pribadi, tetapi juga karena perebutan kekuasaan yang sengit di istana. Meskipun demikian, perilaku tidak pantasnya yang tercatat tetap menjadi faktor penting dalam narasi sejarahnya.
Dampak dari masa pemerintahan singkat Liu He adalah penegasan kembali kekuasaan regent Huo Guang dan menunjukkan ketidakstabilan dalam suksesi kekaisaran setelah kematian Kaisar Zhao. Penemuan makamnya secara signifikan memperkaya pemahaman kita tentang Dinasti Han Barat, menyediakan data arkeologi yang melengkapi dan terkadang menantang catatan tekstual yang ada.
7. Keluarga dan Keturunan
Liu He memiliki silsilah keluarga kekaisaran Dinasti Han yang terkemuka dan meninggalkan banyak keturunan.
Liu He adalah bagian dari garis keturunan kekaisaran Dinasti Han, dengan silsilah keluarga sebagai berikut:
- Kakek: Kaisar Wu dari Han
- Ayah: Liu Bo, Raja Ai dari Changyi
Liu He memiliki 16 istri dan 22 anak. Putra-putranya yang dikenal antara lain:
- Liu Chongguo (劉充國Liu ChongguoBahasa Tionghoa)
- Liu Fengqin (劉奉親Liu FengqinBahasa Tionghoa)
- Liu Daizong (劉代宗Liu DaizongBahasa Tionghoa), Marquis Haihun, yang akhirnya mewarisi gelar ayahnya pada masa pemerintahan Kaisar Yuan.