1. Gambaran Umum
Ning Cheng (meninggal pada abad ke-2 dan ke-1 SM) adalah seorang politikus Tiongkok pada Dinasti Han Barat yang bertugas di bawah pemerintahan Kaisar Jing dan Kaisar Wu. Ia dikenal luas sebagai salah satu `酷吏kùlìBahasa Tionghoa` (pejabat kejam) karena penerapan hukumnya yang sangat keras dan brutal. Reputasinya begitu menakutkan sehingga para pejabat yang bepergian di wilayah kekuasaannya biasa berkata, "Lebih baik menghadapi harimau betina yang sedang menyusui daripada kemarahan Ning Cheng!" Ia menggunakan kecerdikan dan kekejamannya untuk mencapai posisi kekuasaan, menekan atasan dan memanipulasi bawahan.
2. Kehidupan
Perjalanan hidup Ning Cheng mencerminkan ambisinya yang tak kenal lelah, dari seorang pejabat istana hingga seorang tokoh yang ditakuti, serta kemampuannya untuk bangkit kembali setelah kejatuhan.
2.1. Kehidupan Awal dan Karier di Bawah Kaisar Jing
Ning Cheng, yang berasal dari Ryang-hyeon, Nanyang `南陽郡Nányáng JùnBahasa Tionghoa`, memulai kariernya di bawah Kaisar Jing sebagai `謁者yèzhěBahasa Tionghoa` (pejabat istana) dan tuan rumah tamu. Ia dikenal memiliki banyak akal licik dan sifat kejam. Ning Cheng menggunakan cara-cara yang tidak jujur untuk mencapai posisi kekuasaan. Akhirnya, ia diangkat sebagai komandan utama `都尉dūwèiBahasa Tionghoa` di Jinan `濟南郡Jǐnán JùnBahasa Tionghoa`. Para pendahulunya di posisi ini selalu mendekati Zhi Du `郅都Bahasa Tionghoa`, gubernur Jinan yang ditakuti sebagai "Elang Biru", seolah-olah mereka hanyalah pejabat daerah bawahan karena rasa takut mereka. Namun, Ning Cheng menganggap Zhi Du sebagai setara dan berusaha untuk melampauinya. Zhi Du, yang telah mengetahui reputasi Ning Cheng, justru berteman baik dengannya dan memperlakukannya dengan hormat.
2.2. Karier di Bawah Kaisar Wu
Setelah kematian Zhi Du, Kaisar Jing menunjuk Ning Cheng sebagai komandan militer `中尉zhōngwèiBahasa Tionghoa` di Chang'an `長安Bahasa Tionghoa` untuk membendung banyaknya kejahatan yang dilakukan oleh kerabat kekaisaran. Ning Cheng meniru gaya pemerintahan Zhi Du, tetapi ia tidak memiliki integritas yang sama. Dengan kecerdikannya yang ia miliki, ia menghakimi dengan sangat kejam, sehingga keluarga kekaisaran, bangsawan, dan kerabat kaisar sangat ketakutan dan gemetar menghadapinya.
Ketika Kaisar Wu naik takhta pada tahun 140 SM (tahun pertama Jian Yuan), ia memindahkan Ning Cheng menjadi prefek ibu kota `內史nèishǐBahasa Tionghoa`. Namun, setelah Ning Cheng meninggalkan jabatannya sebagai komandan militer dan pergi ke wilayah tugas barunya, para kerabat kaisar dan bangsawan yang sebelumnya takut kepadanya mulai mengambil setiap kesempatan untuk memfitnah dan menuntutnya. Akibatnya, Ning Cheng akhirnya didakwa dan dijatuhi hukuman mati. Ia dijatuhi hukuman berat, termasuk `髡鉗kūnqiánBahasa Tionghoa` (mencukur rambut dan janggut serta mengenakan belenggu). Pada masa itu, merupakan kebiasaan bagi pejabat tinggi yang telah mencapai peringkat `九卿jiǔqīngBahasa Tionghoa` untuk bunuh diri ketika dituduh melakukan kejahatan berat. Namun, Ning Cheng, yang telah menyerah pada ambisi kariernya, tidak melakukan bunuh diri.
2.3. Kejatuhan, Konvict, dan Pelarian
Ning Cheng memilih untuk menerima hukuman paling berat sekalipun. Ia kemudian berhasil melarikan diri dari penjara. Untuk dapat kembali ke kampung halamannya, ia memalsukan dokumen `通關證tōngguānzhèngBahasa Tionghoa` agar bisa melewati `函谷關Hángǔ GuānBahasa Tionghoa` (Hangu Pass).
2.4. Aktivitas Pasca-Pelarian dan Akumulasi Kekayaan
Setelah pelariannya, Ning Cheng menyatakan, "Seorang pejabat yang tidak bisa naik gaji hingga 2.000 pikul atau seorang pedagang yang tidak bisa menghasilkan setidaknya 10.000.000 koin tidak pantas disebut manusia!" Dengan tekad ini, Ning Cheng meminjam uang dan membeli lebih dari 1.000 qing (setara dengan sekitar 56 M m2 (600.00 M ft2)) tanah pertanian secara kredit. Ia kemudian mempekerjakan ribuan keluarga miskin sebagai petani penggarap di tanah tersebut.
Beberapa tahun kemudian, ketika pengampunan umum diumumkan dan semua kejahatan lamanya diampuni, Ning Cheng telah mengumpulkan kekayaan yang sangat besar, mencapai ribuan keping emas dan puluhan juta koin. Ia juga dikenal sebagai `遊侠の徒yūkyō no toBahasa Jepang` (seorang pemimpin lokal yang ditakuti atau preman). Ia mengetahui kelemahan dan korupsi para pejabat setempat, sehingga ia dapat memanipulasi mereka. Ketika ia bepergian, puluhan pengikutnya akan mengiringi, dan ia mengerahkan kekuasaan atas penduduk setempat yang jauh lebih besar daripada gubernur wilayah itu sendiri. Penduduk setempat bahkan lebih menghormati Ning Cheng daripada gubernur.
2.5. Penunjukan Kembali sebagai Komandan dan Insiden Yi Zong
Mendengar tentang Ning Cheng, Kaisar Wu bermaksud mengangkatnya kembali sebagai gubernur. Namun, Gongsun Hong `公孫弘Bahasa Tionghoa`, seorang `御史大夫yùshǐdàfūBahasa Tionghoa` (sensor kekaisaran), memprotes penunjukan kembali Ning Cheng yang memiliki catatan kriminal, dengan mengatakan bahwa ia seperti "serigala yang menggiring kawanan domba". Meskipun demikian, Kaisar Wu tidak mendengarkan dan tetap menunjuk Ning Cheng sebagai komandan utama di Hangu Pass. Seperti yang diperingatkan Gongsun Hong, orang-orang di Nanyang dan Hangu Pass sangat menderita akibat pemerintahannya yang keras, sampai-sampai mereka berkata, "Lebih baik menghadapi harimau betina yang sedang menyusui daripada kemarahan Ning Cheng."
Kemudian, ketika Yi Zong `義縱Bahasa Tionghoa` melakukan perjalanan dari Henei `河内Bahasa Tionghoa` ke Nanyang untuk mengambil jabatan sebagai gubernur di sana, Ning Cheng telah pensiun kembali dan tinggal di Nanyang. Meskipun Ning Cheng menemuinya di celah dan mengantarnya dalam perjalanan dengan sikap merendah, Yi Zong tidak membalas kesopanannya. Sebaliknya, Yi Zong segera mengajukan tuntutan terhadap keluarga Ning dan menghancurkan rumah mereka sepenuhnya. Akibatnya, Ning Cheng kembali didakwa melakukan pelanggaran. Karena ketakutan akan dihukum lagi, Ning Cheng melarikan diri dari Nanyang bersama dengan keluarga Kong dan Bao, dua keluarga `土豪tǔháoBahasa Tionghoa` (tokoh berpengaruh lokal) di Hangu Pass. Catatan sejarah tidak menyebutkan nasib akhir Ning Cheng setelah insiden ini.
3. Gaya Pemerintahan dan Filosofi Pribadi
Ning Cheng dikenal karena gaya pemerintahannya yang sangat keras, kejam, dan brutal. Ia menggunakan kecerdikan dan akal liciknya untuk menekan atasan dan memanipulasi bawahan, serta menerapkan hukum dengan cara yang menakutkan. Meskipun ia meniru metode pemerintahan Zhi Du, Ning Cheng tidak memiliki integritas dan kejujuran yang sama. Ia memimpin dengan rasa takut, membuat keluarga kekaisaran, bangsawan, dan kerabat kaisar gemetar ketakutan.
Filosofi pribadinya yang terkenal adalah pandangannya tentang kesuksesan dan kekayaan. Ia percaya bahwa seorang pria sejati harus mencapai jabatan tinggi dengan gaji besar (2.000 pikul) atau mengumpulkan kekayaan yang signifikan (10.000.000 koin). Pandangan ini mendorongnya untuk mengakumulasi kekayaan besar setelah pelariannya, bahkan melebihi kekuasaan gubernur wilayah. Ia juga tidak ragu menggunakan cara-cara yang tidak etis, seperti memalsukan dokumen dan memanfaatkan kelemahan pejabat lain, untuk mencapai tujuannya.
4. Evaluasi dan Dampak
Ning Cheng meninggalkan jejak yang signifikan dalam sejarah Dinasti Han sebagai salah satu pejabat paling kontroversial.
4.1. Evaluasi sebagai "Pejabat Kejam"
Ning Cheng dijuluki `酷吏kùlìBahasa Tionghoa` (pejabat kejam) karena praktik penegakan hukumnya yang sangat ketat dan sering kali tidak manusiawi. Ia menggunakan kekejaman dan kecerdikan untuk mengendalikan bawahannya dan menekan siapa pun yang menghalangi jalannya. Dampak pemerintahannya terhadap masyarakat sangat besar; ia menanamkan rasa takut yang mendalam di antara penduduk, termasuk keluarga kekaisaran, bangsawan, dan kerabat kaisar. Meskipun beberapa tindakannya mungkin bertujuan untuk menumpas kejahatan, metode brutalnya lebih banyak menimbulkan teror daripada keadilan. Reputasinya yang menakutkan bahkan menjadi peribahasa di kalangan pejabat pada masanya.
4.2. Penerimaan Sejarah dan Warisan
Ning Cheng dinilai oleh sejarawan, seperti Sima Qian dalam `史記ShǐjìBahasa Tionghoa` (Catatan Sejarah Agung) dan Ban Gu dalam `漢書HànshūBahasa Tionghoa` (Kitab Han), sebagai contoh utama dari `酷吏Bahasa Tionghoa`. Kisahnya menjadi cerminan praktik pemerintahan yang keras pada era Dinasti Han. Pengaruhnya terhadap praktik pemerintahan pada masa itu adalah menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat digunakan untuk menanamkan rasa takut dan mengumpulkan kekayaan pribadi, meskipun dengan mengorbankan integritas dan keadilan. Meskipun tidak ada referensi budaya yang signifikan dalam sastra atau seni yang disebutkan dalam sumber, kisahnya tetap menjadi bagian dari narasi sejarah Tiongkok mengenai pejabat yang berkuasa dengan tangan besi.
5. Nasib Akhir
Tidak ada catatan historis yang pasti mengenai tanggal, tempat, atau penyebab kematian Ning Cheng. Setelah insiden dengan Yi Zong dan pelariannya dari Nanyang bersama para tokoh berpengaruh lokal, catatan sejarah tidak lagi menyebutkan nasibnya. Ketidakjelasan mengenai akhir hayatnya menambah misteri seputar tokoh yang ditakuti ini.